Monday, June 22, 2009

ARTIKEL : Arab, Tanah Kelahiran Bangsa Arab dan Agama Islam

Oleh: Muhyiddin Basrani

Islam dan Arab, dua entitas yang sama sekali tak terpisahkan. Dari bangsa Arab, dan dari tanah Arab agama samawi ini lahir dan berkembang. Dan mini pun, bangsa Arab menjadi elemen utama dari entitas agama Islam yang masih eksis di muka bumi ini.

Sejatinya, Arab sebagai nukleus peradaban Islam dimulai dari segelar tanah di semenanjung Arabia, tempat di mana Muhammad sang Nabi dilahirkan pada tahun 570 M. Kota Makkah tempat kelahiran agung itu dalam masa sebelum Islam adalah sebuah wilayah tandus yang tak mempunyai peran peradaban signifikan. Seperti kota-kota lain seperti Yathrib (kini Madinah), Jiddah, Riyadh, Makkah adalah kota yang terletak di wilayah semenanjung Arab bagian tengah yang berkarakter geografis ekstrim. Karena karakter inilah, dalam masa pra-Islam, Arab tengah ini kurang menarik bagi bangsa-bangsa penguasa di sekitarnya untuk dijadikan target kolonisasi.

Pada masa kelahiran nabi Muhammad, bangsa penguasa luar hanya mampu melakukan kolonisasi atas bagian semenanjung Arab sebelah utara, timur, dan selatan. Di sebelah utara ada daerah Levant, atau yang lebih dikenal dalam tradisi Islam sebagai bilad al-Syam, yang dikuasai oleh imperium Bizantium (330 M). Imperium ini adalah cabang kekuasaan Romawi di bagian timur yang beribu kota di Konstantinopel (kini Istanbul) dan dikenal dalam tradisi Islam serta dalam al-Qur’an sebagai bangsa Rum.

Di sebelah timur, wilayah pesisir dikuasai oleh penguasa Sassaniah (226 M) yang oleh orang Arab disebut sebagai bangsa Faris (Persia). Sebelah selatan yang saat ini meliputi Yaman serta Oman, pada saat itu menjadi wilayah koloni dinasti Aksumit (110 M) yang berpusat di Abyssinia (kini Ethiophia). Dinasti inilah yang belakangan dikenal sebagai tuan rumah atas hijrah Islam periode pertama pada tahun 615 M. Namun pada saat tahun kelahiran Rasulullah itu pula, dinasti Aksumit harus mundur kembali ke tanah Afrika, untuk digantikan posisinya oleh dinasti Sassaniyah.

Masing-masing wilayah semenanjung Arabia bagian utara, timur dan selatan tersebut memang telah memiliki rentang sejarah kompetisi kekuasaan yang panjang. Negeri Syam adalah wilayah strategis dan kaya sumber daya alam. Wilayah timur pun demikian, merupakan jalur strategis menuju Persia, Hindia, maupun Asia timur. Semenanjung Arab sebelah selatan bahkan telah masyhur dengan kisahnya tentang kerajaan Saba’ dengan ratunya yang bernama Balqis. Di wilayah selatan yang subur dan bercurah hujan tinggi ini pula dinasti Himyariyyah pernah tegak berkuasa.

Dengan demikian, wilayah Arab yang masih murni ini merentang ke utara hingga kota Batra’ (Petra, Jordania). Ke arah selatan, wilayah ini merentang hingga ke kota Najran, ke timur sampai wilayah yang saat ini dikenal sebagai kota Riyadh, ke barat hingga sepanjang pantai Laut Merah. Pola pemukiman yang dominan terkait dengan kondisi alam di daerah ini adalah pola nomaden. Suku Badui yang terbagi dalam banyak klan atau qabilah cenderung hidup berpindah guna menemukan daerah baru yang lebih nyaman. Pola pemukiman permanen akan dimulai ketika sekelompok orang menemukan sumber air atau oase yang bisa diharapkan sebagai sumber penghidupan. Dari pemukiman permanen inilah, sebuah tempat akan semakin ramai, dan akhirnya layak untuk disebut sebagai sebuah kota.

Paruh pertama abad keenam Masehi menandai dimulainya peran wilayah Arab bagian tengah ini. Semua diawali dari menegangnya tensi konfrontasi antara penguasa Bizantium dengan penguasa Persia. Teluk Persia yang sebelumnya adalah jalur perdagangan barat-timur menjadi berkurang tingkat keamanannya. Walhasil para pedagang dari timur lebih memilih jalur baru yaitu pelabuhan di pesisir selatan jazirah Arab, dilanjutkan dengan jalur barat menembus wilayah Arab bagian tengah, menuju ke wilayah utara yaitu bilad al-Syam. Demikian pula jalur perdagangan dari barat berpindah melewati bilad al-Syam, Arab bagian tengah, pelabuhan pesisir selatan semenanjunag Arabia, berlanjut perjalanan laut tanpa melewati teluk Persia.

Konsekuensinya, ada jalur Arab tengah yang melewati kota-kota semisal Makkah dan Madinah menjadi semakin ramai. Sebelumnya jalur ini hanya diramaikan oleh lalu lintas komoditas perdangan lokal semenanjung Arab. Namun dengan angin perubahan ini, komoditas perdagangan dari wilayah timur semisal India dan Cina, serta dari wilayah barat semisal Afrika dan Eropa, mulai didistribusikan melalui jalur dagang di wilayah Arab bagian tengah.

Wilayah Arab bagian tengah menjadi masyhur, dan para penduduknya pun turut serta dalam aktivitas perdagangan yang menguntungkan itu. Kota Makkah yang kala itu dikuasai oleh klan Quraysh semenjak itu pula melahirkan para pedagang ulung. Nabi, kerabat, serta orang-orang dekatnya merupakan orang-orang yang tak lepas dari aktivitas perdagangan. Rombongan qafilah dari wilayah seputar Makkah mengarungi lautan pasir dan batu ke arah selatan pada musim dingin untuk menemukan hawa yang lebih hangat, serta ke arah utara pada musim panas untuk menemukan hawa yang lebih sejuk. Pola perdagangan ini bahkan terekam dalam al-Qur’an sebagai rihlah al-syita’ wa al-shayf

Di samping aktivitas ekonomi ini, Makkah juga makin masyhur sebagai pusat peradaban dan pusat kegiatan spiritual. Menjadi semacam daerah transit, Makkah diramaikan oleh orang-orang dari berbagai bangsa maupun berbagai qabilah. Aktivitas sastrawi yang berkembang dalam masyarakat Badui kini mulai menghiasi aktivitas sehari-hari penduduk Makkah. Ka’bah sebagai simbol kesalehan spiritual dipenuhi oleh berhala-berhala penganut agama pagan, agama leluhur Arab. Selain itu, persinggungan dengan bangsa lain juga mendorong munculnya pengaruh agama lain yang berasal dari luar wilayah Arab bagian tengah. Agama Zoroaster dari Persia, Hindu dan Buddha dari India, Yahudi dari Arab bagian utara, serta Nasrani dari penguasa Bizantium maupun Aksumit mulai dikenal oleh orang Makkah dan sekitarnya. Munculnya terma Allah sebagai representasi tunggal dewa tertinggi dalam agama pagan Arab menunjukkan pengaruh kuat agama samawi dalam peri kehidupan masyarakat Arab.

Meningkatnya aktivitas kota Makkah ini tak dikesampingkan begitu saja oleh penguasa Aksumit yang berhasil melakukan kolonisasi atas wilayah Arab bagian tengah semenjak tahun 520 M. Pada tahun kelahiran nabi Muhammad, Abrahah yang menjadi gubernur Yaman di bawah dinasti Aksumit dari Abyssinia, bahkan melakukan operasi militer untuk menaklukkan Makkah dengan menggunakan tentara gajah. Namun usaha kolonisasi paling pertama atas wilayah Arab bagian tengah ini harus menemui kegagalan. Peristiwa ini terekam jelas pula dalam al-Qur’an sebagai kisah ashab al-fil (pasukan gajah). Dan dengan perisitiwa ini pula, tahun kelahiran sang Nabi akhirnya terkenal sebagai Tahun Gajah.

Sejak masa itulah, orang Arab bagian tengah tak pernah mengalami kolonisasi dari bangsa lain. Tanah yang dalam tradisi Islam selanjutnya sering disebut sebagai Hijaz ini berdiri sebagai sebuah pusat peradaban dan agama yang berdaulat. Hanya bangsa Arab sendiri dan kekuatan Islam sendirilah yang di kemudian hari mampu berkuasa atas tanah Hijaz yang semakin strategis ini. Dan saat ini pula, tanah Hijaz ini dikuasai oleh bangsa Arab-Islam sendiri melalui representasi al-Mamlakah al-‘Arabiyyah al-Su’udiyyah (Kerajaan Saudi Arabia).

Bermula dari sebuah tanah kering nan tandus ini pada akhirnya agama Islam tumbuh berkembang di seluruh penjuru dunia. Dari tanah Arab Islam kini berada di pelosok-pelosok bumi mulai dari daratan barat Afrika, hingga kepulauan Pasifik di sebelah timur. Sementara karakter geografis Arab yang begitu keras dan tak mudah ditundukkan ini pada akhirnya hanya mampu ditundukkan oleh bangsanya sendiri. Rasulullah dilahirkan dan tumbuh besar dari sebuah bangsa yang hidup secara berdaulat tanpa campur tangan kekuasaan bangsa lain.

Dan dari tanah yang keras ditundukkan ini, sisi keindahan lain dan eksotisme muncul tanpa bisa dipungkiri. Dari eksotisme ini, lahir masyarakat sastrawi yang memiliki kekayaan khazanah bahasa yang begitu tinggi. Sebuah bahasa yang terkadang disebut paling rumit apabila dilihat dari kaca mata tata bahasa, namun tumbuh berkembang dan diterima di berbagai wilayah pula seiring dengan perkembangan Islam. Dengan bahasa Arab, definisi bangsa Arab kini pun menjadi semakin luas. Berbagai bangsa mulai dari penduduk Mauritania, Syria, hingga Komoro sekalipun, mengaku sebagai bangsa satu, yaitu bangsa Arab.[]
(perjalanan musim dingin dan musim panas).

* Penulis adalah mahasiswa tingkat terakhir Universitas al-Azhar Fakultas Ushuluddin Jurusan Akidah dan Filsafat

No comments:

Followers

Related Posts with Thumbnails